Kemenpar: Ada 3 Hal untuk Rebut Pasar Wisatawan Millennial

KEMENTERIAN Pariwisata (Kemenpar) lewat Menteri Pawisata (Menpar) Arief Yahya mengisyaratkan untuk merebut pasar wisatawan millennial yang ke depannya akan terus tumbuh dan menjadi pasar terbesar, perlu memperhatikan tiga hal yang menjadi potensi millennial.

“Pertama, wisatawan millennial memiliki kebutuhan dan perilaku yang berbeda dan mereka sangat tergantung pada pada teknologi dan media sosial. Kedua, millennial sebagai segmen yang penting karena size dan influencing power-nya yang besar. Ketiga, diperlukan pengembangan strategi khusus sebagai suatu inisiatif untuk mengkapitalisasi potensi masa depan indutri pariwisata (who win the future, wins the game),” ujar Arief Yahya.

Dikatakan, needs dan behaviour millennial  berbeda sehingga bentuk pelayanan ke depan one on one,” kata Menpar Arief Yahya ketika membuka sekaligus sebagai keynote speaker pada Focus Group Discusstion (FGD) II dengan tema bahasan ‘Strategi Pemasaran Yang Efektif Untuk Merebut Pasar Millennial Tourism.

“Maksud dari sementasi terbaiknya adalah tidak mensegmentasi karena di era digital saat ini digital menjadi pintu masuk yang dapat mengetahui secara rinci keperluan wisatawan millennial. Diperlukan strategi khusus untuk merebut pasar wisatawan millennial,” katanya.

Ditambahkannya, wisatawan millennial merupakan pasar masa depan, dan siapa yang dapat merebutnya akan menjadi pemenang. Dengan kata lain who win the future, wins the game. Diproyeksikan jumlah wisatawan millennial mencapai 34% atau sektiar 7 juta dari target 20 juta wisman yang akan kita raih pada tahun depan.

Sementara itu Hermawan Kartajaya, founder & chairman MarkPlus Inc, mengelompokan wisatawan millennial dalam 4 kelompok yaitu digital/tech savvy (pandai dalam teknologi IT), advocators (mampu mengavokasi), experience oriented (berorentasi pada pengalaman), dan adventure seekers (pencari petualangan).

“Digital sebagai sarana pembuka. Ada wisatawan millennial kelompok tech savvy  maunya digital saja, tapi banyak pula yang kemudian ingin mencari pengalaman, berpetualangan, atau pun sebagai advokasi. Wisatawan millennial kelompok advocators ini lebih suka mengunjungi destinasi-destinasi  yang paling instagramble kemudian melakukan selfie dan men-share lewat instragram agar diketahui millennial lain,” ungkap Hermawan Kartajaya.

Dalam prakteknya 4 kelompok wisatawan millennial mempunyai keinginan berbeda satu sama lain. Misalnya kelompok digital/tech savvy yang sangat dipentingkan adalah kecanggihan digital platform antara lain wifi dan hotspot di destinasi yang dikunjungi harus hebat. Sedangkan kelompok experience oriented dilakukan para guide dalam upaya memberikan pengalaman kepada para wisatawan yang ditangani.

“Kelompok adventure seekers umumnya ingin menemukan autentik lokal yang ada di destinasi yang dikunjungi. Pada prakteknya mensegmentaskan wisatawan millennial belum ada pakemnya sehingga pendekatannya sementara ini menggunakan frame strategi dengan pengelompokan tersebut.  [traveltext.id]