Kunjungan Wisman 16,2 Juta, Devisa Pariwisata Lampaui Target

JUMLAH kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tahun 2018 diproyeksikan sekitar 16,2 juta wisman atau sekitar 95% dari target yang ditetapkan sebesar 17 juta wisman.

Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam acara Jumpa Pers Akhir Tahun (JPAT) 2018 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata Jakarta mengatakan, meskipun target wisman meleset, namun perolehan devisa pariwisata tahun ini mencapai US$17,6 miliar atau di atas target.

“Perolehan devisa pariwisata sebesar US$17,6 miliar tersebut dengan perhitungan capaian 16,2 juta wisman dikalikan ASPA (Average Spending per Arrival) atau rata-rata pengeluaran per kunjungan sebesar US$1.100/wisman. Sebagai good news-nya perolehan devisa pariwisata tahun ini akan menempatkan posisinya sebagai penghasil devisa terbesar, mengalahkan atau sejajar dengan devisa Crude Palm Oil (CPO) sebesar US$16 miliar berada di urutan teratas,” ujar Arief Yahya.

Dikatakan, awalnya saya sempat optimis target tahun ini tercapai karena pada Juni dan Juli 2018 kunjungan wisman sudah sampai 1,5 juta per bulan (kali 12 bulan menjadi 18 juta), namun munculnya musibah gempa bumi di Lombok pada 29 Juli 2018 (tak berdampak terhadap kunjungan wisman) disusul gempa 7 SR pada 5 Agustus 2018 terjadi cancellation besar-besaran lebih dari 75%. Selama Agustus hingga Desember 2018 turun sebesar 500.000 wisman atau mencapai rata-rata 100.000 per bulan.

“Sementara itu pergerakan wisatawan nusantara di Tanah Air selama tahun 2018, tidak ada masalah karena terus tumbuh bahkan untuk target tahun ini sebanyak 270 juta sudah tercapai pada tahun lalu (2017) sebanyak 270.882.003, sedangkan target 2019 mendatang sebesar 275 juta wisnus kemungkinan sudah tercapai pada akhir tahun ini,” katanya.

Ditambahkannya, pada kesempatan itu Menpar juga menjelasakan realisasi investasi di sektor pariwisata selama 2018.  Hingga kuartal I tahun 2018 ini nilai realisasi investasi pariwisata sudah mencapai 21,67% atau US$433,5 juta dari target tahun ini sebesar US$2.000 juta. Investasi di sektor pariwisata baik PMA (Penanaman Modal Asing) maupun PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) memiliki pola yang serupa seperti pada tahun 2017.

Arief Yahya menjelaskan lebih jauh, untuk PMA asal negara didominasi oleh Singapura, Tiongkok, dan Korea Selatan  sebagai Top3 dengan jenis usaha di bidang hotel berbintang, akomodasi jangka pendek lainnya, serta restoran, sedangkan tempat investasi terkonsentrasi di destinasi Bali, DKI Jakarta, dan Kepulauan Riau.

Hal ini sesuai dengan peran ketiga destinasi ini sebagai pintu masuk utama wisman atau greater. Sementara itu untuk PMDN lebih banyak berinvestasi pada usaha hotel bintang, taman rekreasi tematik, dan daya tarik wisata buatan/binaan manusia dengan sebaran tempat investasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur hal ini sesuai dengan sumber dan tujuan wisata bagi wisnus di Tanah Air.

3 Senjata Pamungkas 2019

Menpar Arief Yahya menjelaskan, program super extra ordinary akan dijadikan sebagai senjata pamungkas dalam mewujudkan target akhir 20 juta wisman tahun depan. Super extra ordinary yang mencakup tiga program; border tourism, tourism hub, dan low cost terminal (LCT). Program ini  sebagai strategi bauran dari tiga program yakni; ordinary, extra ordinary, dan super extra ordinary.

Program ordinary dijalankan di tahun-tahun sebelumnya yaitu sebagai business as usual berupa  program promosi BAS (Branding, Advertising, Selling) dengan continuous improvement secara dinamis, sedangkan program extra ordinary yang diluncurkan tahun 2018 yaitu Incentive (Airlines), Hot Deals, dan Competing Destination Model. Sementara itu program super extra ordinary, kata Menpar Arief Yahya, sebagai program istimewa yang sengaja disimpan untuk menjadi senjata pamungkas dalam mewujudkan target akhir 20 juta wisman tahun depan.

Super extra ordinary mencakup tiga program yaitu: Border Tourism, Tourism Hub, dan Low Cost Terminal. “Border tourism harus kita seriusi di tahun depan karena merupakan cara efektif untuk mendatangkan wisman dari negara-negara tetangga,” kata Arief Yahya seraya menjelaskan,  pertama karena wisman dari negara tetangga memiliki kedekatan (proximity) secara geografis sehingga wisman lebih mudah, cepat, dan murah menjangkau destinasi kita. Kedua, mereka juga memiliki kedekatan kultural/emosional dengan kita sehingga lebih mudah didatangkan. Ketiga, potensi pasar Border Tourism ini masih sangat besar baik dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, PNG, maupun Timor Leste.

Untuk program tourism hub  sebagai strategi menjaring di kolam tetangga yang sudah banyak ikannya’. Maksudnya, wisman yang sudah berada di hub regional seperti Singapura dan Kuala Lumpur ditarik untuk melanjutkan berlibur ke Indonesia. “Salah satu persoalan pelik pariwisata kita adalah minimnya direct flight dari originasi. Direct flight kita misalnya dari originasi China mencapai 50%, artinya 50% sisanya masih transit dari Singapura, Kuala Lumpur, atau Hong Kong. Sementara negara tetangga seperti Thailand atau Malaysia direct flight-nya sudah mencapai 80%. Mendatangkan direct flight dari originasi bukanlah hal gampang. Saya minta direct flight dari India ke Bali tiga tahun tidak dikasih. Akan jauh lebih mudah jika kita “menjaring” di hub-hub regional yang sudah banyak wisatawannya,” kata Arief Yahya.

Arief  Yahya mengestimasikan jumlah orang asing yang masuk via bandara Singapura (selain orang Indonesia) selama 12 bulan terakhir hampir mencapai 12 juta pax (rinciannya: 32% dari ASEAN minus Indonesia; 22% dari China-Hong Kong; 17% dari Asia-Pasifik; 14% dari Asia Tengah, MEA, Afrika; dan sisanya dari Eropa dan Australia). Sementara wisman ke Indonesia yang transit di bandara Singapura jumlahnya tidak sampai 700 ribu. Artinya peluang untuk menggaet wisman yang jumlahnya sekitar 11 juta lebih itu masih terbuka luas.

Sementara itu untuk program low cost terminal diterapkan tahun depan. Selama ini kita salah memilih vehicle untuk konektivitas udara, dimana kita harus tumbuh tinggi tetapi lebih banyak menggunakan vehicle yang tumbuhnya rendah.  Wisman yang datang ke Indonesia tahun 2017 lebih dari 55% menggunakan Full Service Carrier (FSC) dan sisanya menggunakan Low Cost Carrier (LCC). Namun, ternyata pertumbuhan FSC rata-rata hanya 12% jauh di bawah LCC yang tumbuh rata-rata 21% per tahun.

“Maka, LCC adalah senjata ampuh untuk mendorong pertumbuhan jumlah wisman, dimana maskapai berbiaya rendah ini menyumbang kontribusi peningkatan kunjungan wisman sebanyak 20%. Nah, untuk mendorong pertumbuhan LCC, Indonesia harus mempunyai Low Cost Terminal (LCT). Saya tegaskan bahwa LCT merupakan salah satu penentu utama keberhasilan target kunjungan 20 juta wisman pada tahun 2019,” kata Arief Yahya.

Arief Yahya menjelaskan, saat ini bandara yang paling siap dikembangkan menjadi LCCT adalah Terminal 1 dan 2 Soekarno-Hatta. "Nantinya Terminal 1 diarahkan menjadi full LCCT penerbangan domestik, sedangkan Terminal 2 full LCCT untuk penerbangan domestik dan internasional. Di samping itu Bandara Banyuwangi juga sedang dikembangkan menjadi LCCT setelah melalui berbagai proses pembenahan." [traveltext.id]