Potensi dan Tantangan Kota Medan untuk Jadi Destinasi MICE

KOTA Medan sebagai salah satu Kota terbesar di Sumatera memiliki potensi untuk dijadikan sebagai destinasi Meeting, Incentive, Convention & Exhibition (MICE) setelah Jakarta dan Bali. Terlebih lagi, Medan, masuk dalam tujuh daerah program promosi destinasi MICE oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Menurut Wisnu Sulaeman, dari Puntama Convex, dalam Workshop Percepatan Pengembangan Wisata MICE 2018 mengatakan, hal paling utama untuk Medan dijadikan sebagai destinasi MICE adalah adanya political will yang cakap dari Gubernur.

"Medan kalau yang saya lihat itu belum adanya political will yang datang langsung dari Sumatera Utara, sepertinya mereka belum melihat bahwa multiplier effect ekonomi dari penyelenggaraan MICE ini sangat besar untuk kesejahteraan rakyatnya," ujar Wisnu.

Dikatakan, pemahaman political will sangat penting. Lombok, (sebelum gempa) secara fasilitas buat MICE masih bagus dan lengkap dari Medan. Tapi, kepala daerahnya (Gubernur) berani mengambil keputusan untuk membesarkan MICE, maka Lombok sekarang wisatawan sangat bagus.

“Untuk itu, saya berpesan, agar setiap kepala dinas pariwisata di suatu daerah agar pro aktif dan paham terlebih dahulu tentang MICE. Di sisi lain, peran suasta, asosiasi, praktisi dan akademisi pun dituntut berperan aktif. Jangan cuma sekedar ngomong. Akan tetapi harus dilengkapi pula dengan kajian dan data," katanya.

Sementara itu, Agus Suriyono, Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan, mengatakan, Pemerintah Kota Medan dalam hal ini Dinas Pariwisata Kota Medan ingin mendorong Kota Medan sebagai salah satu destinasi MICE.

“Sejujurnya telah siap menjadi kota destinasi MICE, infrastruktur tidak ada masalah. Aksesbilitas telah mempunyai Bandara Internasional, Kualanamu, dilengkapi juga dengan kereta cepat Rail Link dari Bandara ke Kota Medan,” ungkapnya.

Dijelaskannya, kota Medan memiliki fasilitas MICE berupa Hall, Convention dan Ballroom (ruang meeting dan konfrensi) yang merupakan fasilitas dari hotel berbintang antara lain, JW Marriott, Grand Mercure, Santika Premiere  Dyandra Hotel & Convention, dengan kapasitas dari 1000 hingga 3000 orang. Bulan ini saja, Kota Medan menjadi tuan rumah penyenggaraan MTQ Nasional ke-27 dari tgl 7-12  Oktober 2018 yang melibatkan 3.500 peserta dari 34 Provinsi se-Indonesia, dan 2.168 personel keamanan.

 Begitu pula menurut Hosea Andreas Runkat, Ketua Tim Percepatan MICE Kemenpar, menjelaskan, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kota Medan perlu berkolaborasi dan sinergitas program untuk  mendorong Kota Medan sebagai destinasi MICE yang dapat, memenuhi standar dan kriteria sesuai Peraturan dan Kebijakan yang berlaku.

Andreas, mengingatkan, Kota Medan merupakan pintu gerbang perdagangan wilayah barat  Indonesia, oleh karena itu aksesibilitas yang terintegrasi menjadi faktor penting untuk menunjang kedatangan wisatawan leisure dan MICE.

“Tak hanya itu, saya pun menyarankan, tak perlu banyak-banyak memiliki venue atau tempat penyelenggaraan event. Buat apa kalau membuat venue banyak tapi sekalanya kecil. Lebih baik punya satu, tapi sekalanya besar. Sehingga dapat menampung seluruh agenda tahunan dengan sekala yang besar," ucap Andreas.

Satu hal lagi, pentingnya data-data MICE dan  profile success story penyelenggaraan MICE di Medan sebagai bahan presentasi ke Asosiasi Nasional maupun International sekaligus sebagai  kebutuhan pengembangan dan pemasaran MICE Medan.

Pada kesempatan yang sama, Sofyan, salah satu pelaku MICE di Kota Medan, berharap, pihak Pemerintah membuat sebuah profile tentang success  story penyelenggaran event MICE di kota Medan, sebagai bahan presentasi ke Asosiasi Nasional maupun International.

Sofyan pun menyarankan ke Pemerintah Kota Medan agar mempunyai program promosi yang efektif berkelanjutan dan efesien bahwa Medan sebagai kota Destinasi MICE. Selain itu, Kota Medan harus menambah atraksi wisatawan dan tempat-tempat menarik.

"Terus, pemerintah kota Medan pun melakukan lobby-lobby kepada pihak terkait seperti Asosiasi International, PCO dan PEO. Tahapan selanjutnya adalah melakukan sosialisasi pentingnya peningkatan SDM melalui Sertifikasi Profesi," pungkas Sofyan. [photo special]